LIPUTAN UKM – Berbeda dari festival atau pameran produk usaha pada umumnya, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) memiliki standar yang khusus dalam menghadirkan UMKM kreatif. Semua pelaku usaha kreatif yang menempati tenant-tenant FKY melalui proses seleksi yang melibatkan kurator.

Ada alasan khusus mengapa pemilihan tenant ini harus dikurasi terlebih dahulu. Terdapat sekitar 480 UMKM yang mendaftar. Sementara FKY 30 masih terbatas dalam menyediakan stand yakni, hanya 100 stand. Jadi, ini merupakan persaingan pameran industri kreatif yang cukup ketat.

Beberapa kriteria khusus yang harus dimiliki oleh tenant-tenant FKY 30 yakni UMKM kreatif yang benar-benar menciptakan produk kreatif, artinya produk tersebut mempunyai unique value dan berkarakter. Kedua, UMKM yang terpilih bukan pedagang, melainkan produsen yang artinya bisa menciptakan suatu produk dan handmade diutamakan. Terkahir, produk harus sesuai dengan visi FKY yakni, memiliki unsur kesenian.

Jenis UMKM yang dipilih pun tak sembarangan, kali ini FKY 30 hanya memilih UMKM dengan produk/barang, bukan kuliner. “Produk kuliner di festival mana aja pasti laku, maka festival kali ini kami hanya mengambil produk kreatif saja, karena masih berada dalam konteks tema FKY secara keseluruhan”, ujar Setyo Harwanto, Ketua Bagian Umum FKY saat ditemui Tim LiputanUKM (5/08). FKY menyediakan 100 stand gratis yang hanya boleh diisi oleh industri kreatif.

Produk kreatif dari salah satu tenant FKY 30

Produknya memang unik dan tidak mudah ditemukan di tempat lain. Saat ditanya soal kapasitas produksi pelaku UMKM menyatakan belum siap, sehingga produknya bisa dibilang limited edition. Keunikan produk kreatif yang dijual di setiap stand ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi FKY. Sebab, para pelaku UMKM kreatif bisa menemukan pasarnya. Selain itu, dengan keberadaan produk kreatif ini, masyarakat menjadi pengunjung yang berdaya beli bagus.

Baca Juga:  Penurunan PPh Untuk UKM Masih Difinalisasi
Antusiasme pengunjung FKY 30

Sejauh ini, teman-teman UMKM kreatif sudah memiliki kesadaran berbisnis dan menciptakan karya. Sebagian tenant diantaranya sudah mengekspor produk mereka. FKY melihat produk yang ada mampu bersaing di pasar global. Produk yang dijual di setiap tenant sangat bervariasi. Hal ini menunjukkan inovasi para pekerja kreatif Yogyakarta yang luar biasa.

Sebagai seorang yang sering mendampingi pengusaha kreatif di Yogyakarta beberapa tahun terakhir, Setyo menyampaikan keprihatinannya terhadap dunia usaha. “Produk di jogja kehilangan karakteristiknya. Jadi mereka tidak bisa membangun pasarnya sendiri. Kreasi itu penting. Selama ini banyak pengrajin yang hanya menciptakan produk yang desainnya datang dari pembeli.”, demikian Setyo mengutarakan opininya.

Setyo kemudian menambahkan lagi, besar harapan baginya produk-produk yang ada di FKY 30 punya karakteristik lokal yang kuat. Produk harus bisa mengikuti perkembangan, tanpa menghilangkan karakteristik dan nilai asli produk tersebut. Jangan terlalu mengejar pasar dan profit.

FKY 30 diselenggarakan mulai tanggal 23 Juli-9 Agustus 2018 di Planet Pyramid, Bangunharjo, Bantul. Festival tahunan kali ini mengangakat tema Mesemeleh, Mesem=senyum, Semeleh=ikhlas.