Berbagai mode pakaian kian beragam seiring dengan perkembangan zaman. Pakaian yang sedang tren saat ini, terkadang mengadopsi mode pakaian luar negeri, baik dari segi desain dan motifnya, sehingga tak jarang mode pakaian Indonesia sekarang semakin terkikis keasliannya. Namun, hal ini tidak berlaku bagi batik yang sampai saat ini tak pernah termakan zaman. Batik tetap menunjukkan eksistensinya berkat peran sebagian masyarakat yang peduli tentang kebudayaan asli Indonesia.

Demikian yang ditekankan oleh Ibu Amiroh dalam kehidupan sehari-harinya. Perempuan kelahiran tahun 1968 ini, sudah belajar membatik sejak usia 10 tahun. Sembari mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, menciptakan kain batik dengan berbagai motif juga mendorongnya untuk terus melestarikan warisan nenek moyang. Ilmu membatiknya ini diwariskan turun-temurun dari orang tuanya. Saat ini ia sudah bergabung dengan Paguyuban Kampung Batik Giriloyo untuk memamerkan hasil karyanya.

Proses Pembuatan Batik Tulis Giriloyo

Jika anda berkunjung ke Kampung Batik Giriloyo, tepatnya di daerah  Wukirsari, Imogiri, Bantul. Anda akan menjumpai beberapa motif seperti Sido Asih, Semen Romo, Babon Angrem, Wahyu Tumurun, Taruntum, dan Pamiluto, itulah hasil gambaran batik dari tangan cantik Ibu Amiroh. Uniknya lagi, ada cerita dan filosofi disetiap motifnya itu. Ambil saja beberapa contoh seperti, Sido Asih memiliki arti saling mengasihi, atau Babon Angrem yang berarti seoarang ibu yang sedang melindungi anak-anaknya. Goresan malam dan filosofi dibalik motifnya tentu menambah daya tarik dan nilai khas batik yang diciptakan.

Meskipun sudah puluhan tahun melanggengkan warisan budaya batik, Ibu Amiroh mengaku tetap menghadapi banyak tantangan. Dalam membuat motif, Ibu Amiroh harus memunculkan ide-ide kreatifnya agar mendapatkan motif yang tidak monoton. “Dulu motif masih sangat klasik, sekarang harus berupaya memunculkan inovasi. Mempertimbangkan usia juga yang udah semakin tua, butuh jam terbang untuk menumbuhkan ide-ide”. Semua kain batik dibuat dari bahan kain primisma dengan tingkat kehalusan batik yang berbeda.

Baca Juga:  Inovasi Bisnis Ayam Geprek Uda Gembul Balikpapan

Keunikan yang dipancarkan di setiap lembarnya, membuat batik buatan Bu Amiroh diminati oleh masyarakat dari berbagai daerah. Perlu tenaga, waktu, dan pikiran yang lebih untuk membuat batik ini. Pembuatan membutuhkan waktu cukup lama demi menjaga kualitas batik yang digemari masyarakat. Dedikasi Bu Amiroh terhadap warisan budaya nenek moyang patut diapresiasi.

tim liputanUKM