LIPUTAN UKM – Skill dan passion menjadi bekal utama seseorang dalam meniti karir, termasuk mereka yang membangun karir di bidang usaha. Tak hanya untuk tujuan keuntungan, melakoni usaha sama halnya mengerjakan hobi yang dibayar. Beginilah gambaran seorang Hj. Sri Suprih Lestari (73 tahun) yang semasa mudanya sudah menekuni bidang konservasi flora. Kini ia fokus membudidayakan tanaman anggrek dengan mendirikan Taman Anggrek Titi Orchids.

Titi Orchids sudah didirikan sejak tahun 1993. Menginjak usianya yang sudah semakin dewasa, Titi Orchids terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pelestarian anggrek. Upaya ini diwujudkan dengan konsistensi Titi dalam mengadakan pelatihan budidaya anggrek setiap 3-4 bulan sekali. Ada pun acara besar yang sudah 4 tahun ini konsisten diselenggarakan yaitu, Festival Anggrek Vanda Tricolor. Selain sebagai tempat jual beli bibit dan tanaman anggrek, Titi Orchids juga menjadi sarana edukasi.

Membudidayakan tanaman anggrek diakui Titi memang membutuhkan usaha yang keras. “Tanaman anggrek tidak bisa tumbuh dengan mudah begitu saja. Butuh waktu mulai dari beberapa hari sampai beberapa tahun buat tumbuh. Kita harus sabar dan hati-hati merawat tanaman anggrek, serta menghargai dan peduli terhadap estetika sebuah tanaman”, jelasnya saat tim LiputanUKM hadir di Festival Anggrek Vanda Tricolor 2018. Begitu juga usia tanaman anggrek tersebut, hanya bisa hidup sehari tetapi juga ada yang bisa sampai beberapa tahun.

Media pengembangbiakkan anggrek Titi Orchids bermacam-macam, ada yang menggunakan pot, gelas plastik, batok kelapa, arang, pakis, atau diikatkan di pohon, dan lain sebagainya. Anggrek ditanam di media yang berbeda-beda, maka perawatannya pun juga berbeda. “Anggrek yang ditanam di media pakis harus disiram sesering mungkin, karena sifat pakis itu sendiri sulit menyerap air”, ujar Hana, salah satu mahasiswa Biologi UGM yang sedang kerja praktek di Taman Titi Orchids.

Baca Juga:  Titi Orchids dan PAI Konsisten Ajak Masyarakat Lestarikan Anggrek Vanda Tricolor

Seiring berjalannya waktu, menurut pengamatan Titi sebagian masyarakat kini sudah tergerak untuk melestarikan anggrek di sekitar Gunung Merapi. Terbukti dengan pelaku usaha anggrek yang memasang harga mahal pada salah satu tanaman anggreknya. “Setidaknya dia sudah menghargai anggrek. Meskipun harga yang dipasang mahal sekali”, jelas Titi.

Sejauh ini, sudah ada sekitar 200 spesies yang dijual di Titi Orchids. Harga anggrek dikocek mulai dari 11 ribu – 10 juta. Untuk range harga 11 ribu – 30 ribu, anggrek yang dijual masih dalam bentuk benih. Diatas harga tersebut biasanya sudah dalam bentuk anggrek jadi. Spesies anggrek yang beragam itu dipasang dengan harga yang berbeda-beda. Pembedaan harga ini berdasarkan lama waktu perawatan dan kesehatan anggrek tersebut.

Pembeli mengunjungi area bibit anggrek Titi Orchids

Pengunjung Titi Orchids rata-rata berasal dari kalangan reseller anggrek dan komunitas anggrek. Peminat anggrek di Titi Orchids ini cukup banyak, terbukti dengan omsetnya yang bisa mencapai 30 juta per bulan.