Dialog Kebangsaan "Peran Sociopreneur Dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional" di Kampus FISIPOL UGM

LIPUTAN UKM – Sociopreneur atau yang disebut juga wirausaha sosial, dewasa ini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sosial di Indonesia, dengan fokus utama membangun usaha berbasis pemberdayaan masyarakat lokal. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM belum lama ini mengupayakan langkah tersebut dengan membentuk Akademi Kewirausahaan Masyarakat (AKM), yang berada di bawah FISIPOL Creative Hub (C-Hub).

Permasalahan sosial dan sociopreneurship tidak hanya dibahas lingkup internal FISIPOL UGM dan AKM aja. Pada hari Sabtu (28/07), AKM menyelenggarakan sebuah Dialog Kebangsaan yang mengangkat tema Peran Sociopreneur Dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional. Dialog ini menghadirkan beberapa pemateri diantaranya M. Hanif Dhakiri, S.Ag, M.Si (Menteri Ketenagakerjaan), Dr. Hasto Wardoyo SP.OG (Bupati Kulonprogo), dan Eros Jarot (Politisi dan Budayawan), serta M. Najib Azca, PhD (Dosen Sosiologi UGM) sebagai moderator.

Suasana berlangsungnya acara Dialog Kebangsaan 2018

Hampir setiap daerah di Indonesia berusaha mengembangkan produk lokal, tak terkecuali masyarakat dan pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Namun, UMKM sendiri juga harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dalam rencana pembangunannya, Hasto mengajak masyarakat untuk menggali berbagai potensi produk lokal yang ada. Misalnya setelah pembangunan bandara baru di Kulonprogo mendatang, Hasto ingin produk lokal Kulonprogo bisa eksis di kawasan bandara, bukan malah produk impor yang mengambil lapak.

Sejauh ini produk UMKM yang unggul di pasaran adalah Batik Kulonprogo, Kopi Suroloyo, dan Wisata Alam Kalibiru. Kulonprogo sendiri sudah mempunyai website marketplace khusus produk UMKM Kulonprogo yaitu belabeliku.com.

Tidak hanya di Kulonprogo, kedepannya AKM diharapkan bisa membuat gerakan kewirausahaan sosial yang menggandeng masyarakat pedesaan di daerah lain. Hanif Dhakiri memberi gambaran bagaimana wirausaha bisa berkembang pesat di negara-negara barat. Dalam buku Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme yang pernah dibacanya, masyarakat negara barat yang mayoritas beragama protestan menganut ajaran bahwa siapapun yang bekerja keras akan masuk surga.

Baca Juga:  Menko Darmin: Tarif Pajak UKM Turun, Batas Omzet Kena Pajak Tetap

“Jadi, sebetulnya orang sukses berwirausaha bisa dilatarbelakangi oleh motif non ekonomi”, demikian Hanif menyimpulkan. Begitu juga dengan sociopreneur yang berwirausaha dengan semangat menyelesaikan persoalan sosial, maka keuntungannya juga bisa mengikuti. Lebih lanjut Hanif menjelaskan, idealnya  sociopreneur di era disruption ini, bisa berpikir out of the box, bahkan without the box.

Eros Jarot sepakat jika sociopreneur saat ini harus berpikir out of the box, tetapi jangan melupakan esensinya. Saat ini banyak orang yang mampu berpikir kreatif dan inovatif. Namun, saking semangatnya berinovasi, justru semakin memudarkan nilai asli dari produk tersebut.

Memperbaiki mindset dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi merupakan tugas seluruh elemen masyarakat di era modern. Tentunya dengan tanpa melupakan cita-cita luhur bangsa. Kedepannya AKM akan menggerakkan sociopreneur di berbagai daerah di Indonesia. Sebelumnya AKM telah melewati berbagai pelatihan untuk mendapatkan pengetahuan yang cukup dan mumpuni. (kin/ liputanUKM).