Bicara tentang belut, ternyata tidak sedikit orang yang tahu jika hewan panjang nan licin tersebut merupakan bahan makanan yang memiliki banyak unsur gizinya. Protein, kalsium, kalori, zat besi, dan vitamin menjadi kandungan gizi hewan yang menjadi salah satu komoditi ekspor Indonesia tersebut. Tidak mengherankan jika banyak pihak yang kemudian menjadikan belut sebagai bahan baku pembuatan aneka macam kuliner.

Nah bagi Anda yang penasaran seperti apa jika belut diolah menjadi aneka olahan makanan, destinasi berikut ini bisa menjadi salah satu tujuan yang wajib dikunjungi. Warunk Welut, dari namanya saja kita bisa langsung menebak jika tempat tersebut merupakan  lokasi penjual welut alias belut (bahasa Jawa). Apa benar Warunk Welut menjual belut? tim liputanUKM berkesempatan mengunjungi warung yang berlokasi di Jalan Ring Road Timur Manding Bantul.

Warunk Welut Bantul

Nuansa hijau dengan dihiasai foto beraneka olahan makanan menyambut kami yang untuk kali pertama datang ke Warunk Welut. Dari hiasan dinding yang memenuhi interior warung tersebut kita bisa langsung tahu jika Warunk Welut menjual aneka olahan makanan berbahan baku belut, bukan belut mentah. Untuk membuktikan rasa penasaran, kami bertemu langsung dengan sang pemilik Warunk Welut yakni Siti Burhan. Dari ibu dua orang anak tersebut, kami bisa tahu latar belakang berdirinya Warunk Welut serta perkembanganya sampai sejauh ini.

“Warung ini berdiri belum lama, baru September yang lalu, modal utamanya yang jelas tekad yang kuat serta modal nekat,” terang Siti kepada tim liputanUKM. Bersama suaminya, Siti mengeluarkan dana sekitar 12 juta Rupiah untuk keperluan renovasi tempat berjualan, peralatan memasak dan penyajian, serta properti warung. Persiapan lain yang dilakukan Siti adalah melakukan uji rasa ke beberapa orang target pasar. Proses tersebut (uji rasa) menjadi point pokok bagi Siti sekaligus mengevaluasi kekurangan taste dari olahan yang dia ciptakan.

Baca Juga:  UKM Bersiap Masuk Digitalisasi Pasar

Setelah melakukan beragam inovasi serta evaluasi dari proses uji rasa, Siti dan suami mantap menyewa sebuah ruko di kawasan pinggiran kota Bantul. “Saya mendirikan usaha kuliner ini karena saya sadar bahwa kebutuhan makan adalah kebutuhan pokok harian, dan kenapa memilih belut karena saya ingin memberikan alternatif lauk bagi konsumen, tidak hanya berupa ayam atau makanan lainnya saja,” ujarnya.

Melakukan Promo Yang Unik

Untuk memperkenalkan warungnya ke khalayak, Siti dan suami melakukan proses promo yang tidak biasa. Mereka menggratiskan menu bagi siapa yang datang ketika masa promo dengan menunjukkan kupon yang diperoleh dari sosial media. Sebuah langkah cerdas yang mampu mendorong banyak orang berbondong-bondong ke tempat mereka jualan. “Ada banyak alternatif sebenarnya yang bisa dilakukan untuk memperkenalkan warung kami ke konsumen, salah satu seperti yang kita lakukan adalah menggratiskan menu makanan selama 3 hari, promosi tersebut kami sounding melalui sosial media khususnya facebook,” imbuh Siti.

Respon positif yang ditunjukkan selama masa promosi membuat Siti semakin optimis akan keberlangsungan warung welutnya. Untuk menjaga iklim positif tersebut sang  suami terus menerus melakukan promosi via sosial media, terutama FB ads dan instagram. “Untuk menjaga agar mereka (pelanggan) tidak pergi, kami kontinyu melakukan promo via medsos, baik yang gratisan maupun yang berbayar,” terangnya. Benar saja, sejauh ini warunk welut sudah menjual lebih dari 1.000 porsi selama bulan promonya.

Menu Aneka Olahan Belut

Aneka Menu Warunk Welut

Ada banyak menu yang bisa kita pesan ketika berkunjung ke Warunk Welut. Mengusung tagline Sehat Full Khasiat semakin meyakinkan para pembeli untuk memesan banyak menu tanpa khawatir tentang efek sampingnya. “Belut goreng cabe merah dan ijo, belut geprek, sambal belut, belut original, dan belut kremes menjadi menu olahan belut andalan kami,” lanjut Siti ketika ditanya macam menu yang disediakan.

Baca Juga:  Belanja Oleh-Oleh Khas di Kaos Pakapura
Bahan Baku belut Warunk Welut

Dalam menjaga cita rasa menu olahanya, Warunk Welut senantiasa menggunakan bahan baku belut terbaik. Belut-belut tersebut diperoleh dari para pengepul yang ada di seputaran Yogyakarta dan Jateng. Menurut Siti, warungnya selalu menjaga kualitas belut terutama dari segi ukuran. Pihaknya selalu menggunakan belut yang berukuran besar agar konsumen merasa puas bisa menikmati daging belut yang lebih banyak.

Karena memilih belut yang berukuran besar, terkadang mereka mengalami kesulitan untuk memperolehnya secara rutin. Hal demikian diakui Siti cukup mengganggu terlebih belut cukup langka khususnya pada musim kemarau seperti saat ini. Namun demi menjaga kepuasan para pelanggan, mereka sejauh ini terus melakukan komunikasi dengan para supplier penyedia belut, agar ke depan kebutuhan Warunk Welut atas ketersediaan belut semakin terjaga.

Tamu Adalah Raja

Suasana Warunk Welut

Tamu adalah seorang raja, mungkin prinsip itulah yang selalu dipegang Siti dan suami dalam mengelola usahanya. Memberikan pelayanan yang terbaik dan medekatkan diri kepada setiap pelanggan adalah langkah awal untuk terus mengembangkan Warunk Welut. “Dalam menjalankan bisnis ini saya selalu memotivasi diri dengan meniatkan untuk membawa kesejahteraan pribadi dan membawa kebermanfaatan kepada sebanyak-banyaknya orang dengan menggerakkan sendi-sendi usaha yang lain,” jelas Siti yang diamini suaminya.

Di akhir wawancaranya dengan tim liputanUKM.com Siti memberikan pesan untuk setiap orang yang sedang merintis usaha barunya agar tetap memegang prinsip ‘Dream Pray Action’, memulai usaha dengan mimpi dan ide sebebas-bebasnya, niat bersungguh-sungguh serta dengan menggunakan target waktu dan perencanaan yang matang.

tim liputanUKM

1 COMMENT

  1. Mampir lagi nanti..
    Kmrn saya makan kremes..
    Bawa pulang sambel welut gak kebagian, dihabisin ibu-bapak-adik saya

    Sip.. mak nyus..

Comments are closed.