Ketertarikan terhadap suatu bidang seringkali membuat orang menjadikannya sebagai sebuah hobi bahkan pekerjaan. Passion, begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut. Mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan passion disebut-sebut lebih nyaman dikerjakan dibandingkan hal yang dipaksakan. Dalam bisnis, passion acap kali dipakai sebagian pelaku usaha sebagai alasan kuat memulai atau merintis usaha.

Salah satu passion yang banyak ditekuni di tahun 2018 adalah fashion dan kecantikan. Kedua bidang tersebut ternyata bisa memberikan peluang bisnis yang menguntungkan. Tidak percaya? Silakan disimak perjalanan Monica Soegianto dan rekannya Hellena yang menekuni bisnis berbasis kecantikan berdasarkan hobi/ kegemaran, dan tentu saja mampu menghasilkan keuntungan yang tinggi.

Bukan Bisnis Kecantikan Biasa

Monica dan Hellena membuktikan jika hobi bisa menjadi sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Hobinya dalam bidang kecantikan membawa dua sahabat tersebut memutuskan untuk merintis dan mengembangkan bisnis bersama. Adapun yang dipilih sebagai core bisnis Monica dan Hellena adalah kutek gel polish.

Bisnis kutek gel polish ini salah satu bisnis yang tidak biasa, karena sampai saat ini produk tersebut belum banyak dijual di Indonesia. Adapun kutek gel polish yang dijual rata-rata bukan dari brand dalam negeri. Padahal peminat kutek gel polish sudah semakin banyak dibanding peminat kutek biasa. Monica dan Hellena kemudian memanfaatkan momentum tersebut untuk menciptakan produk kutek gel polish dengan brand Indonesia, yakni La Palette.

Tidak tanggung-tanggung, modal yang mereka keluarkan di awal merintis usaha tersebut mencapai 200 juta. Modal usaha yang lumayan besar tersebut dikeluarkan karena pembuatan produk kutek gel polish ini di request langsung oleh La Palette dari Korea. Jadi, kualitas dan variasi produk langsung mendapat pengawasan langsung dari Korea.

Baca Juga:  Kemenkop Minta UKM Fesyen Bersertifikasi Produk

Edukasi Customer Jadi Tantangan

Layaknya pebisnis lain, La Pallete juga menemui berbagai kendala sekaligus tantangan yang justru menyemangati mereka. “Memulai bisnis ini paling susahnya adalah branding dan marketing, awalnya sempet agak susah juga dalam mengedukasi customer kami tentang perbedaan kutek biasa dan kutek gel bagi yang belum terbiasa,” ungkap Monica kepada liputanUKM.

Sedangkan bagi yang sudah terbiasa menggunakan kutek gel, hadirnya La Palette juga sempat menimbulkan keraguan. “Banyak juga yang ragu, karena kami brand lokal, baru lagi, sementara kebanyakan produk kutek gel yang beredar merupakan brand asing, khususnya dari Amerika,” imbuhnya.

Namun, hal itu tak menjadi kendala yang berarti, pelan-pelan La Palette memperbanyak kolaborasi dan memberi edukasi, serta penetrasi agar customer terbiasa dengan kutek gel polish. Tidak hanya itu, La Palette juga dengan senang hati mengirimkan sampel ke salon-salon supaya mereka bisa mengenal kualitas produk La Palette.

Kualitas dan kenyamanan yang diberikan ini tentu membuat orang-orang tertarik membeli. Terbukti dalam sebulan, La Palette bisa menjual sekitar 50 kutek. Para customer tidak hanya datang dari Jakarta saja, tetapi juga dari Surabaya, Surakarta, Medan, Lampung, hingga Makassar. Sebagai bisnis online kecantikan, La Palette memberi kemudahan kepada para customernya untuk memesan melalui media sosial seperti facebook dan instagram.

Harga dan Keunggulan Produk

Produk La Palette dijual dengan kisaran harga mulai Rp.220.000,00 per pcs, dengan varian produk yang bisa dipilih yaitu, ada gel polish warna, top coat, base coat, chrome powder, hologram powder, pengering compact, dan gel polish remover. Selain varian, kutek gel polish tak kalah berkualitas dengan produk lain yang sejenis. La Palette mempunyai keunggulan diantaranya warna kutek yang lebih solid, harga terjangkau, dan tersedia home packgage yang bisa memudahkan customer memakainya dirumah. Tentunya berbisnis tidak hanya mengutamakan kualitas, tetapi juga kenyamanan customer.

Terus membangun branding dan menambah relasi merupakan kunci keberhasilan Monica dan Hellena selama ini. Selain itu, pebisnis juga harus mengetahui trend yang terus berubah. Oleh karenanya kemampuan inovasi juga tak boleh mati. (Kin/ liputanUKM)