Untuk memperkenalkan destinasi wisata dan meningkatkan mutu usaha mikro, kecil, dan menengah ( UMKM) di Gunung Kidul, Yogyakarta, Dinas Koperasi dan UKM Gunung Kidul menggelar pembinaan bagi pelaku UMKM di dalam Goa Rancang Kencono.

“Pembinaan UMKM kami rancang di obyek wisatanya langsung, tidak di gedung pertemuan, agar dapat mengangkat potensi wisata,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Widagdo, di Goa Rancang Kencono, Selasa (10/4/2018).

Menggunakan proyektor layaknya ruang rapat, di dalam goa juga disedikan kursi berjejer. Meski cuaca cukup terik, tetapi di dalam goa terasa sejuk.

Sebanyak 30-an orang pedagang dan pelaku usaha kecil di wilayah desa wisata Bleberan mendapatkan sosialisasi mengenai pengembangan UMKM.

Pemilihan lokasi ini dikarenakan untuk mendukung visi dan misi Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul untuk mendukung perkembangan pariwisata. Selain di Playen, lokasi pembinaan UMKM juga dilakukan di lokasi wisata lain.

“Tidak hanya di sini, tetapi obyek wisata lain,” ucap Widagdo. Ia menilai dengan rapat di obyek wisata bisa mendorong perkembangan pariwisata itu sendiri, termasuk pendukung di dalamnya, salah satunya UMKM.

“Kegiatan pembinaan semacam ini juga sudah beberapa kali dilakukan setelah sebelumnya di Mulo, Drini, dan beberapa obyek wisata lainnya,” ujar Widagdo.

Ada lebih dari 38.000 UMKM di Gunung Kidul. Saat ini masih ada beberapa hal yang masih sering menjadi kendala pengembangan UMKM di Gunung Kidul, mulai dari SDM yang perlu ditingkatkan, pemenuhan bahan baku, hingga pemasaran yang masih sering terkendala.

“Harapan semua titik wisata dari hasil UKM. Minimal ada 75 persen produknya. Saat ini masih 50 persen, lainnya merupakan produk dari luar,” ulasnya.

Kabid UKM Dinas Koperasi dan UKM Sutaryono mengatakan, saat ini produk yang dihasilkan UKM masih belum banyak inovasi sehingga masyarakat perlu berinovasi agar para wisatawan tidak jenuh.

Baca Juga:  UMKM Harus Miliki Kreativitas E-Commerce

“Kalau di lokasi wisata berjualan mi instan di lokasi lain banyak, di sini potensinya kan besar, seperti inovasi makanan dari bahan dasar ketela. Kalau memiliki inovasi, wisatawan akan puas,” tutur Sutaryono.

Ketua pedagang Srigetuk, Desa Bleberan, Playen, Sudarto, mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara yang meningkat setiap tahunnya belum dapat dilayani dengan baik karena keterbatasan bahasa asing.

Untuk itu, yang dibutuhkan mendesak saat ini pelatihan bahasa asing.

“Selain itu, permodalan juga menjadi masalah cukup berat bagi kami untuk mengembangkan produk, sangat perlu untuk mendapatkan pinjaman lunak,” ucap Sudarto.

Perlu diketahui, di Goa Rancang Kencana terdapat pohon klumpit/tlumpi yang sudah tua. Diperkirakan usianya ratusan tahun.

Dalam keterangan tertulis yang disusun oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Yogyakarta, ada penemuan artefak dan tulang belulang yang diperkirakan hidup pada ribuan tahun yang lalu.

Selain itu, juga ditemukan arca Nandi sebagai tempat persembunyian dan pertemuan Laskar Mataram pada saat menyusun rencana untuk mengusir Belanda dari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2018/04/11/16195981/tak-biasa-pembinaan-umkm-di-gunung-kidul-digelar-di-dalam-goa