Menjamurnya para pelaku Usaha kecil dan menengah (UMKM) baru termasuk di bidang perusahaan rintisan (start up)di tanah air menjadi peluang bisnis tersendiri bagi para penyedia jasa tempat kerja fleksibel atau coworking space.

Vijayakumar Tangarasan, Country Head Malaysia, Brunei & Indonesia Regus memaparkan, jumlah pengguna jasa coworking space yang dikelolanya cukup berimbang antara UMKM dengan perusahaan besar. Dia menilai hal ini karena fleksibilitas yang ditawarkan serta harga yang cukup kompetitif yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan UKM.

“Bagi perusahaan rintisan dan UKM, menyewa gedung dan kantor konvensional membutuhkan belanja modal yang cukup besar, maka tempat kerja fleksibel dapat menjadi solusinya. Mereka juga dapat memilih lokasi dari mana mereka bekerja,” ungkapnya, Senin (29/1/2018).

Dia menggambarkan, perusahaan rintisan atau UMKM biasanya dimulai dari dua hingga tiga orang karyawan, sebelum berkembang menjadi puluhan atau ratusan karyawan. Kantor fleksibel memungkinkan mereka menyewa ruang kantor yang sesuai dengan perkembangan jumlah karyawan tersebut sehingga biaya operasional menjadi lebih efisien.

Pihaknya mengaku tidak memiliki data pasti mengenai jumlah total pengguna tempat kerja fleksibel miliknya di Indonesia. Namun dia menilai secara umum komposisi pengguna tempat kerja fleksibel cukup seimbang antara pelaku usaha UMKM dan perusahaan rintisan dibandingkan dengan perusahaan besar.

Dia menjelaskan, kedua jenis pengguna itu dinilai membutuhkan tempat kerja fleksibel untuk keperluan yang berbeda. Bila UMKM dan perusahaan rintisan menyewa tempat kerja fleksibel karena keterbatasan belanja modal, maka perusahaan besar umumnya menggunakan tempat kerja fleksibel ketika akan berekspansi ke lokasi baru.

“Kami tidak memiliki data pasti jumlahnya, tetapi sebagai gambaran di lima tahun terakhir kami hanya memiliki 6 lokasi, dan saat ini menjadi 21 lokasi. Artinya permintaannya semakin banyak, trennya terus berjalan, dan semakin hari semakin terfokus pada pelaku UMKM dan perusahaan rintisan,” jelasnya.

Baca Juga:  Pemerintah Beri Insentif Bebas Pajak bagi Modal Ventura

Dia memaparkan, dari jenis usaha, ada beragam perusahaan yang menggunakan tempat kerja fleksibel, mulai dari perusahaan agensi PR, minyak dan gas bumi, teknologi finansial, teknologi transportasi, hingga blogger, dan jurnalis.

Adapun di Indonesia, pihaknya kini memiliki total 21 tempat kerja fleksibel yang tersebar di Jakarta, Bandung, Bali, Medan, Surabaya, Balikpapan, Makassar dan Serpong. Sementara secara global, Regus telah beroperasi di lebih dari 3.000 lokasi di 900 kota berebda yang tersebar di 120 negara.

Triandini Prasetyo, Area Director Regus menjelaskan, saat ini pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah mitra kerja seperti pengembang properti untuk membuka sejumlah lokasi tempat kerja fleksibel baru. Selain di Jakarta, pihaknya mengatakan masih membidik lokasi di kota strategis yang memiliki jumlah penduduk cukup besar.

“Kuartal kedua ini kami akan membuka satu lokasi baru lagi di Jakarta, di Jalan Gatot Subroto,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, umumnya perseroan menyisihkan 40% ruangnya sebagai tempat kerja fleksibel dengan area yang terbuka, sementara sisanya juga disewakan sebagai ruang kantor dan pertemuan yang tertutup dan konvensional. Dengan demikian pihaknya memiliki pilihan untuk setiap segmen masyarakat.

Sumber : http://industri.bisnis.com/read/20180129/12/731731/pelaku-ukm-dan-startup-jadi-pengguna-coworking-space