Forum konsultasi UMK (Foto: Dok. Kementerian Koperasi dan UKM)

JPP, BATAM – Koperasi Simpan Pinjam (KSP) harus memberikan manfaat kepada anggotanya, agar KSP tersebut mendapatkan kepercayaan dari anggotanya maupun masyarakat pada umumnya, sebagai dasar bagi KSP itu untuk bisa berkembang.

“Percuma kalau Koperasi khususnya KSP  ngajak semua orang jadi anggota, tapi kalau anggota ndak merasakan manfaatnya ya lha opo,” ujar Ketua Umum Kospin Jasa Pekalongan, Andy Arslan Djunaid, disela Forum Konsultasi Penguatan Koperasi sebagai Lembaga Pembiayaan Formal bagi Usaha Mikro Kecil (UMK) di Batam, Kamis (27/7/2018).

Andy yang pada Harkopnas ke 71  mendapatkan penghargaan satya lencana wira karya memberikan contoh, di Kospin Jasa, selain memberikan SHU (Sisa Hasil Usaha), juga memberikan perlindungan asuransi pada semua annggotanya, diman setiap anggota yang meninggal dunia, keluarganya mendapatkan santunan Rp 5 juta. “Kami juga memberikan Tunjangan Hari Raya (THR) secara rutin pada anggota,’ ujar Andy.

Selain itu, produk-produk KSP harus sesuai dengan kebutuhan angggota. “Misalnya sekarang anggota kami lagi banyak yang pergi haji, mereke membutuhkan dana pelunasan ONH  sesegera mungkin. Karena anggota kami umumnya pedagang, dan baru sebulan kemudiaN mendapatkan dana hasil penjualan, maka kami harus cepat memberikan dana talangan,’ jelas Andy.

Hal ketiga sebagai dasar KSP bisa berkembang adalah, pengurus dan pengelola harus transparan dan memberikan laporan secara rutin kepada anggotanya, agar anggota percaya, pengurus dan pengelola itu kredibel, dan ini akan menumuhkan kepercayaan anggota maupun calon anggota.

Dengan ketiga hal itu, KSP akan mampu berkembang dari tahun ke tahun, bahkan sampai menjadi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) seperti yang terjadi pada Kospin Jasa. “setelah menjadi penyalur KUR, kami juga  tak berhenti menawarkan produk-produk kami pada pemasok debitur KUR,” tambahnya.

Baca Juga:  Pj Gub Jabar Harap UMKM Melek Digital

Andy mengakui banyak manfaat yang diperoleh Kospin Jasa setelah menjadi penyalur KUR, antara lain nama koperasi yang semakin terkenal, karena sering disebut-sebut dalam setiap acara. “Tata kelola perusahaan yang sudah mapan maupun kinerja keuangan menjadi semakin kredibel, akunya.

Kospin Jasa sebagai koperasi besar pada 2017, Kospin Jasa berhasil mencatatkan aset Rp6,428 triliun untuk layanan keuangan konvensional atau tumbuh 11,44% dari 2016. Adapun simpanan pada 2017 berhasil mencapai Rp5,7 triliun naik 15,68% dari 2016.

Peningkatan yang sangat baik justru ditunjukkan oleh kinerja keuangan syariah. Pada 2017, aset layanan syariah tumbuh 16,94% menjadi Rp1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,3 triliun. Simpanan juga menunjukkan kenaikan yang tinggi, yakni Rp1,49 triliun atau tumbuh 18,82%. Di sisi pinjaman tumbuh 12,8%.

Dia mengatakan sejumlah capaian tahun 2017 bagi Kospin Jasa sangat membanggakan, terutama dengan anak perusahaan Kospin Jasa, perusahaan asuransi jiwa syariah PT Jasa Mitra Abadi Syariah (JMAS) mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sejumlah produk keuangan juga dikeluarkan Kospin Jasa, seperti tabungan prima untuk menarik anggota lebih banyak lagi. Pada 2018, Andy mengatakan, akan menjadi tahun yang cukup menantang karena disebut sebagai tahun politik dengan adanya pelaksanaan Pilkada. Namun, Andy mengatakan Kospin Jasa akan tetap bekerja keras di tahun politik ini dan tidak akan terpengaruh. “Bahkan Kospin Jasa telah mengakuisisi perusahaan asuransi umum syariah Takaful Umum pada Januari 2018,” katanya.

Kopdit Obor Mas Maumere

Sementara itu General Manajer KSP Kopdit Obor Mas Maumer, Leonardus Frediyanto Moat Lering mengatakan, keingingan koperasinya menjadi penyalur KUR ini, dilatarbelakangi,KUR tidak memberikan bantuan keuangan namun hanya subsidi ada biaya bunga .

Baca Juga:  Kemkop UKM Targetkan 15.000 Usaha Mikro Baru Mengakses KUR

“Itu membuat prinsip swadaya pada Kopdit Obor Mas tetap terjaga, dari oleh dan untuk anggota. Makanya kami mau menjadi penyalur KUR, selain itu kami juga ingin Koperasi juga menikmati kue pembangunan melalaui KUR ini, jangan hanya lembaga keuangan bank saja,” ujar Yanto (penggilan akrabnya-red).

Menurut Yanto yang harus disiapkan KSP untuk menuju menjadi penyalur KUR adalah, sistem IT dimana harus terkoneksi dengan  Kemenkeu, Bank Indonesia (BI) dan  OJK (Otiritas Jasa Keuangan), karena harus mengakses pada Sistem Informasi Kredit Program (SIKP) di Kemenkeu, SID (Sistem Informasi Debitur) ke BI, dan kini dilimpahkan menjadi SILK (Sistem Informasi Layanan Keuangan) ke OJK.

Selain itu penyiapan SDM koperasi yang harus bersertifikasi. Pihaknya juga menyiapkan dan menekankan pada anggota, bahwa KUR ini dananya berasal dari koperasi sendiri, bukan dari pemerintah. Karena itu, anggota harus sungguh sunggu mengangsur pinjaman, karena jika menunggak maka mengorbankan anggota yang lain.

Yanto mengakui, saat ini penyaluran KUR sementara terhenti karena harus menyesuaikan dengan SILK  di OJK, dimana pada 6 Agustus nanti sudah bisa dilakukan mou dengan OJK, untuk kemudia kembali bisa menyalurkan KUR.

Di tahun 2018, KSP Kopdit Obor Mas Maumere dipercaya menyalurkan KUR sRp 150 miliar. “Total plafon Rp 150 miliar meliputi Rp 100 miliar untuk usaha mikro dan sisanya Rp 50 miliar untuk ritel, kami berusaha mencapainya paling tidak nanati ada evaluasi lagi karena praktis tinggal lima bulan lagi pada 2018 ini,” akunya.

“Banyak manfaat yang kami peroleh setelah menjadi penyalur KUR, kami kini sejajar dengan bank, nama Obor Mas juga semakin terkenal di NTT. Kami sangat bersyukur dengan kepercayaan ini. Di Indonesia, hanya dua koperasi yang layak salurkan KUR, kami berharap KSP lainnya segera menyusul ” harap Yanto. (Kop)