Perbankan tengah memasuki masa akhir untuk memenuhi porsi kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Bank Indonesia (BI) menetapkan seluruh bank wajib memenuhi porsi kredit UMKM dengan porsi sebesar 20% hingga akhir 2018.

BI tak segan memberikan sanksi kepada bank yang tidak taat pada aturan. Sebab, BI telah melonggarkan waktu bagi perbankan, yakni pemenuhan porsi kredit UMKM dengan cara mencicil sejak tahun 2015.

Misalnya, bank hanya terkena kewajiban porsi kredit UMKM sebesar 5% di tahun 2015. Bank harus terus menaikkan porsi kredit UMKM sebesar 5% setiap tahunnya hingga di akhir tahun ini.

Bank swasta mengaku cukup kesulitan memenuhi rasio kredit UMKM sebesar 20% di akhir tahun 2018. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk mengaku, untuk meningkatkan rasio kredit UMKM cukup menantang.

“Karena bank juga ingin terus mendukung pembiayaan di sektor korporasi yang masih tumbuh,” katanya kepada KONTAN, Kamis (28/6). Terlebih, kredit korporasi lebih pesat dibandingkan segmen kredit lain. Ini seiring dengan peningkatan proyek infrastruktur yang didorong proyek pemerintah.

Bank berkode saham NISP ini sudah memenuhi porsi kredit UMKM sebesar 16,3% di kuartal I-2018. Agar sejalan dengan aturan, NISP akan meningkatkan penyaluran kredit ke segmen ini.

Senasib, PT Bank Mayapada Internasional Tbk juga belum memenuhi aturan porsi kredit UMKM. Bank berkode saham MAYA ini merasa kesulitan memenuhi ketentuan tersebut mengingat terjadi perebutan nasabah UMKM dari seluruh bank besar hingga kecil.

Haryono Tjahjarijadi, Presiden Direktur Bank Mayapada menjelaskan, jumlah kredit UMKM yang diperebutkan sangat terbatas. Terlebih, program kredit usaha rakyat (KUR) yang overlap dengan kredit mikro dan kecil.

Bank milik pengusaha Dato Sri Tahir ini mencatat porsi kredit UMKM masih di bawah 20%. Selanjutnya, MAYA akan berusaha menggunakan jaringan pengusaha UMKM yang sudah menjadi nasabah Bank Mayapada sebagai cara untuk meningkatkan kredit.

Baca Juga:  UKM Center Programkan Penguatan Teknologi Informasi

Sebelumnya, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjelaskan, penghambat penyaluran kredit UMKM adalah permintaan cukup kencang di segmen kredit lain, seperti infrastruktur.

Bank milik Grup Djarum ini mengaku agak kesulitan untuk meningkatkan portofolio kredit UMKM di tahun ini. Bank ini memproyeksikan, porsi kredit UMKM hanya akan di level 16% tahun ini, atau masih di bawah ketentuan BI.

Informasi saja, BI mencatat baru 72 bank yang memenuhi aturan rasio kredit UMKM di tahun 2017. Sedangkan 47 bank belum memenuhi rasio minimal kredit UMKM, karena kendala persaingan dan penyaluran ke segmen lain.

Sumber : https://keuangan.kontan.co.id/news/bank-kesulitan-memenuhi-porsi-umkm