Pekerja menyelesaikan pembuatan gitar elektrik di UKM Bengkel Syukey Instrument Cirendeu Tangerang Selatan, Rabu (21/3). Kementerian Koperasi dan UKM memberikan bantuan permodalan yang disiapkan untuk wirausahawan pemula (WP) bagi 1830 Wp minimal masing-masing sebesar Rp 10 juta dan maksimal Rp 13 juta./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/21/03/2018.

Masih banyak bank yang belum memenuhi porsi minimal penyaluran kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Bank Indonesia (BI) pun mendorong perbankan  segera memenuhi rasio penyaluran UMKM seperti aturan main dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No 17/12/PBI/2015 tentang pembiayaan ke sektor UMKM.

Yunita Resmi Sari, Direktur Departemen Pengembangan UMKM BI mengatakan, hingga akhir 2017 lalu, jumlah bank yang sudah memenuhi rasio kredit UMKM baru sebanyak 72 bank. Sedangkan, 47 bank lain belum mencapai rasio minimal penyaluran kredit ke UMKM yang ditetapkan yakni sebesar 15% dari total penyaluran kredit di 2017.

Adapun  tahun ini merupakan batas waktu terakhir pemenuhan ketentuan penyaluran kredit UMKM dengan porsi sebesar 20% dari total portofolio kredit (lihat tabel)
Menurut BI, masih banyaknya bank yang belum memenuhi aturan tersebut karena beberapa sebab. Salah satunya, akibat keterbatasan keahlian dan jaringan bank untuk menjangkau nasabah usaha mikro dan kecil.

Sebab untuk menjangkau segmen ini, bank memang harus melakukan pendekatan secara personal. “Maka itu,  BI terus mendorong jaringan bank dengan lembaga keuangan mikro seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan koperasi,” kata dia, kemarin.

Jika bank masih belum mampu memenuhi ketentuan penyaluran kredit UMKM 20% dari total kredit di tahun ini, BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah menyiapkan sejumlah sanksi. Yunita mengatakan, BI akan melakukan disinsentif berupa pengurangan jasa giro. Selain itu, bank yang belu memenuhi ketentuan juga akan mendapatkan surat teguran.

Beberapa bank kecil dan menengah mengaku siap memenuhi aturan BI tersebut. KONTAN menghubungi delapan bank kecil menengah seperti Bank Yudha Bhakti, Bank Mayora, Bank Ina Perdana, Bank CBB Indonesia, Bank Sahabat Sampoerna, Bank of India Indonesia, Bank Dinar dan Bank Victoria untuk meminta komentar soal ini.

Baca Juga:  Baru 6 Persen UKM yang Sudah Jualan Online

Nah, dari delapan bank tersebut, hanya Bank Victoria yang belum memenuhi aturan minimal porsi kredit UMKM. Rusli, Wakil Direktur Utama Bank Victoria mengatakan, saat ini rasio kredit UMKM Bank Cictoria terhadap total kredit baru sebesar 12%. “Kami akan penuhi di angka 20% sesuai regulasi di tahun ini dengan fokus ke komunitas yang ada di lokasi cabang,” kata Rusli, Jumat (23/3).

Adapun tujuh bank kecil  lain mengaku sudah memenuhi aturan rasio minimal UMKM. “Saat ini rasio kredit UMKM kami sebesar 33% dari total kredit. Kami tetap fokus ke ritel konsumer khususnya kredit pensiunan,” kata Iim Wardiman, Direktur Kepatuhan Bank Yudha Bhakti.

Setali tiga uang, Irfanto Oeij, Direktur Utama Bank Mayora menuturkan, rasio kredit UMKM Bank Mayora saat ini sudah sebesar 35%.

Namun beberapa bank yang terbiasa menyalurkan kredit korporasi dan kredit perumahan cukup sulit untuk memenuhi ini. Misal, Bank Tabungan Negara (BTN).

Mahelan Prabantarikso, Direktur Bank Tabungan Negara (BTN) mengatakan, komposisi kredit UMKM di tahun 2017 apabila dihitung kredit konstruksi sampai plafon Rp 50 miliar maka komposisinya kurang lebih 15%. “Untuk tahun 2018 target sesuai rencana bisnis bank (RBB) komposisi kredit UMKM adalah sebesar 20%,” kata dia.

Frans Alimhamzah, Direktur Bisnis Banking CIMB Niaga menyebut, rasio kredit UMKM CIMB Niaga dibanding total kredit baru sebesar 15%-16%. Namun, bank ini akan berusaha mencapai ketentuan BI dengan menjalankan berbagai strategi.

Sumber : https://keuangan.kontan.co.id/news/bank-belum-penuhi-rasio-kredit-umkm